Rumah?

Untuk kesekian kali aku berhenti pada ujung jalan yang sama. Kembali mengistirahatkan kaki pada peraduan yang lama.

Aku kembali. Kuucap ‘hai’ pada dirimu yang katanya sudah lama menanti. ‘Apa kabar?’ 

Lalu; ‘Sudah lebih baik saat kau kembali’

Padahal kupercayai bahwa hati ini sudah jauh pergi. Sudah menemukan yang lain lagi. Membawa asa pada yang penuh ambisi membahagiakan hati.

Nyatanya, itu kamu lagi. 

Rumah? 
Bisa kupanggil seperti itu kah?

Mau berpikir soal jodoh, terlalu jauh. Umurmu, umurku masih bisa saja terikat pada rasa jenuh yang kapan pun dapat menyergap sekujur tubuh lantas membiarkan benih-benih mimpi setinggi langit itu terjatuh.

Mari berdoa semoga Tuhan tak bertitah perihal berpisah. Semoga segala perintah tak berujung pada susah yang sudah-sudah.

Kalau nanti langkah kaki berbeda lagi, kalau nanti hati bergejolak lagi, kalau nanti mimpi memudar lagi, mari berdoa semoga kesadaran tak pernah mati sebab semesta telah menguji sekali lagi. 

Comments

Popular posts from this blog

Peraduan

Pantas Bahagia

Aku Akan